ppt.magang.oke - 201331265 – Sriyati

Download Report

Transcript ppt.magang.oke - 201331265 – Sriyati

MANAJEMEN PELAYANAN KEGAWATDARURATAN OBSTETRIC DI
RUMAH SAKIT BERSALIN BUNDA LESTARI PADA TAHUN 2014.
SRIYATI
2013-31-265
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
JAKARTA
2014
 1.Kasus
kegawatdaruratan obstetric
 2.Menurut WHO ► masih tingginya angka
kematian ibu dan bayi.
 3.Tingginya angka kematian ibu dan bayi di
indonesia.
 4.Masih tingginya angka kematian ibu dan
bayi di kabupaten Tangerang.
 5.Permasalahan yang
ada di RS bersalin
Bunda Lestari adalah sering terjadinya
keterlambatan penanganan pada kasus
kegawatdaruratan obstetric
sehingga
dapat menyebabkan terjadinya kematian
ibu maupun bayinya.

Mengetahui
gambaran
sistem
manajemen
pelayanan kegawatdaruratan obstetric di Rumah
sakit bersalin Bunda Lestari pada tahun 2014.
TUJUAN KHUSUS :
 Mengetahui
proses penilaian awal kondisi
penderita.
 Mengetahui proses penegakkan diagnosis.
 Mengetahui proses pelaksanaan SOP.
 Mengetahui
proses
penanganan
kasus
kegawatdaruratan obstetric.
 Mengetahui proses perawatan dan evaluasi
pasien pasca pelayanan.
Kerangka teori :
 Manajemen
berasal dari bahasa latin “ Manui “ yang artinya
tangan yang pegang kendali agar dapat mencapai
tujuan dengan baik, sedangkan menurut lewis
manajemen adalah proses mengelola dan
mengkoordinasi sumber daya secara efektif dan
fisien sebagai usaha untuk mencapai tujuan
organisasi.
 Fungsi manajemen menurut george terry yaitu :
a. Planning ( perencanaan )
b. Organizing ( pengorganisasian )
c. Actuating ( pengerakkan )
d. Controlling ( pengawasan )
 Unsur
Manajemen ( 6 M )
a. Man
: sumber daya manusia
b. Money
: uang/dana
c. Material : bahan/material
d. Machine : mesin/alat
e. Method : cara yang digunakan
f.
Market : pasar
 Pelayanan
Menurut Fred Luthans (1995), pelayanan adalah
sebuah proses pemenuhan kebutuhan yang
menyangkut segala usaha yang dilakukan orang lain
dalam rangka mencapai tujuan.
Menurut zeitaml (1996), pelayanan adalah
penyampaian
secara
eXcellent/superior
dibandingkan dengan harapan konsumen.
 Kegawatdaruratan
obstetric adalah kondisi
kesehatan yang mengancam jiwa yang terjadi
dalam kehamilan atau selama dan sesudah
persalinan dan kelahiran yang dapat
mengancam keselamatan ibu dan bayinya
dan
dapat
menyebabkan
kematian
(chamberlain, geoffrey & Philip Steer, 1999).
 Manajemen
pelayanan kegawatdaruratan
obstetric adalah pengelolaan dan koordinasi
sumber daya secara efektif dan efisien
terhadap kasus gawat darurat obstetric agar
dapat menyelamatkan kehidupan ibu dan
janinnya ( lewis, Buku acuan manajemen
kegawatdaruratan
obstetric
neonatal
essensial dasar, 2005 ).
 Proses
manajemen
kegawatdaruratan
obstetric
1.Penilaian awal kondisi penderita adalah
langkah pertama untuk menentukan dengan
cepat kasus obstetric yang dicurigai dalam
keadaan gawat darurat dan membutuhkan
pertolongan
segera
dengan
cara
mengidentifikasi penyulit atau komplikasi
yang dihadapi, anamnesa awal dilakukan
bersamaan dengan periksa pandang, periksa
raba dan penilaian tanda vital untuk
mendapatkan informasi yang sangat penting
yang berkaitan dengan kasus yang sedang
dihadapi (buku konsep kebidanan, 2014).
2. Penentuan permasalahan utama (diagnosis)
Menurut Degowin, 1969, penegakkan diagnosis
merupakan seni atau upaya mengenali gejalagejala, tanda-tanda dan temuan laboratorium yang
memerlukan 4 langkah yaitu : mengumpulkan
fakta-fakta,
mengevaluasi
fakta-fakta,
mempersiapkan hipotesis dan memilih diantara
hipotesis (diagnosis banding).
3.Pelaksanaan SOP kegawatdaruratan Obstetric
yaitu
pelaksanaan
standar
atau
acuan
penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetric yang
bermanfaat untuk efisiensi waktu, membantu
karyawan lebih mandiri dan mengurangi tingkat
kesalahan dan kelalaian petugas, dll.
4.Penanganan kasus kegawatdaruratan obstetric
a.Prinsip dasar penanganan kegawatdaruratan obstetric
 Menghormati hak pasien
 Gentleness (bertindak dengan cara yang lembut)
 Komunikatif
 Dukungan keluarga (family support)
b.Prinsip
umum
penanganan
kegawatdaruratan
obstetric :
 Bebaskan jalan napas
 Pemberian oksigen
 Pemberian cairan intravena
 Pemberian transfusi darah
 Pasang kateter kandung kemih
 Pemberian antibiotika
 Obat pengurang rasa nyeri
 Tindakan operatif yang dibutuhkan
5.Perawatan dan evaluasi kondisi pasien pasca
pelayanan kegawatdaruratan obstetric
adalah segala upaya/tindakan yang harus
dilakukan agar kondisi pasien dapat kembali
normal dan sehat seperti sedia kala(buku
asuhan kegawatdaruratan maternitis,2013)
dan merupakan suatu proses yang sistematis
untuk menentukan keberhasilan pencapaian
kesehatan dan untuk mengetahui sampai
sejauh mana kesehatan pasien telah tercapai
(Gronlund,1975)
1.Persiapan teknis
Menentukan judul magang
 Observasi lahan magang
 Mengurus perizinan

2. Persiapan administrasi (pemilihan lokasi
magang)
3.Pelaksanaan
22 hari kerja
 Mengisi absensi
 Tanda tangan pembimbing lapangan
4.Tahap pembuatan laporan
5.Jadwal kegiatan : mulai 16 oktober sampai 4
Desember 2014.

1.Gambaran umum RS Bersalin Bunda Lestari
A.Sejarah Rs Bersalin Bunda Lestari
Rumah Sakit Bersalin Bunda Lestari berawal dari
Bidan Praktek Swasta Ibu Hj. Surayah yang telah
beroperasi sejak tahun 1987. Seiring dengan
perkembangan,pada tahun 2009 bekerjasama
dengan Dr. Purnawan Senoadji, Sp.OG., seorang
dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk
meningkatkan statusnya menjadi rumah sakit
bersalin.
B.Visi, Misi dan Motto RS Bunda Lestari
Visi :Menjadi Rumah Sakit Bersalin terbaik
dalam memberi pelayanan kesehatan
bagi masyarakat
dengan
biaya
terjangkau.
Misi:1)Memberikan
dan
meningkatkan
pelayanan kesehatan
secara
menyeluruh dengan
tenaga
medis
dan non medis
yang professional.
2)Kerjasama dengan semua pihak untuk
memperoleh kesehatan yang terjangkau
oleh masyarakat.
Motto :
“ WE CARE ” : kami memberikan pelayanan
secara cepat, akurat, ramah dan ekonomis
dengan hati, seperti keluarga sendiri.
C.Lokasi kegiatan
RS Bersalin Bunda Lestari, jalan Raya Dadap
rt.08/03 Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi,
Kabupaten Tangerang.
2.Gambaran
Umum
Manajemen
Pelayanan
Kegawatdaruratan Obstetric di RS Bersalin Bunda
Lestari
A.Input
1.Man → sumber daya manusia
Spog
:2 orang
dokter anak
:1 orang
Dokter umum
:2 orang
Dokter anastesi
:2 orang
Bidan
:8 orang
Perawat
:5 orang
P.O.S
:4 orang
2.Methode → tindakan atau keterampilan dalam
menangani kasus kegawatdaruratan obstetric
3.Material → SOP (standar Operasional Prosedur)
4.Money → dana/anggaran yang dibutuhkan
B.Proses
1.Penilaian awal keadaan penderita
Ketika pasien datang → anamnesa bersamaan
dengan periksa pandang, periksa raba dan
tanda
vital
yang
dilakukan
oleh
bidan/perawat yang sedang bertugas.
2.Penegakkan diagnosis
Setelah dilakukan penilaian awal→ dilaporkan ke
dokter Spog → ditegakkan diagnosis oleh dokter
spesialis kandungan tersebut.
3.Pelaksanaan SOP
Atas instruksi dokter Spog → dilaksanakan
tahapan-tahapan penanganan sesuai dengan SOP
yang sudah dipasang di setiap dinding kamar
bersalin.
4.Penanganan kasus kegawatdaruratan obstetric
Informed consent → Penanganan dasar dan
penanganan umum sesuai instruksi dokter→
tindakan operatif oleh dokter Spog(sering
mengalami kendala).
5.Perawatan dan Evaluasi
perawatan pasca tindakan penatalaksanaan
kegawatdaruratan obstetric → observasi
keadaan umum, observasi TTV, observasi cairan
masuk dan keluar, pemberian obat-obatan yang
terjadwal sesuai instruksi dokter spesialis
kandungan.
Hasil Evaluasi di dokumentasikan kedalam rekam
medis pasien dan kedalam buku laporan jaga.
Manajemen pelayanan kegawatdaruratan obstetric di RS
Bersalin Bunda Lestari.
A.Input
1.Man
 Jumlah Sumber daya manusia terutama dokter
spesialis di Rumah Sakit Bersalin Bunda Lestari masih
kurang, seperti jumlah dokter spesialis kandungan 2
orang dan jam prakteknya tidak full timer di rumah
sakit.
 Tenaga-tenaga medis yang belum terlatih
 Harus dilakukan proses organizing atau pengaturan
sumber daya manusia sesuai dengan pekerjaaan dan
kebutuhan terhadap sumber daya manusia di Rumah
Sakit Bersalin Bunda Lestari agar dapat tercapainya
tujuan dari rumah sakit tersebut dalam mencapai
derajat kesehatan ibu dan janinnya secara optimal.
Hal ini Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
George Terry tentang fungsi manajemen.
2.Methode
Pada prakteknya di Rumah Sakit Bersalin Bunda
Lestari tingkat skill atau kemampuan dari tenaga
medis
dalam
memberikan
pelayanan
kegawatdaruratan obstetric seperti bidan jaga
atau perawat yang ada belum maksimal.
Berdasarkan teori Zeitaml (1996:177) yang
menjelaskan
bahwa
pelayanan
adalah
penyampaian secara eXcellent atau superior
dibandingkan dengan harapan konsumen.
Agar dapat tercapainya pelayanan yang eXcellent
atau superior maka perlu di laksanakan lima
dimensi
pelayanan
dan
dilakukan
upaya
peningkatkan skill atau kemampuan para tenaga
medis tersebut melalui kegiatan pendidikan dan
pelatihan yang berhubungan dengan pelayanan
kegawatdaruratan obstetric.
3.Material/SOP
 Ditetapkannya beberapa SOP tentang
kegawatdaruratan obstetric seperti SOP
untuk kasus perdarahan ante partum,
perdarahan post partum, PEB, Hipertensi,
Asfiksia dan lain-lain yang sudah terpasang di
dinding unit kamar bersalin.
 Pada bulan oktober 2014 yang lalu telah di
terbitkannya Peraturan Bupati Tangerang
Nomor 56 tahun 2014 tentang “ Pedoman
Pelayanan Rujukan Kegawatdaruratan
Maternal dan Neonatal di Kabupaten
Tangerang” .
 Hal ini sesuai dengan teori yang disampaikan
oleh Tjipto Atmoko.
4. Money/anggaran Dana
belum optimalnya dana yang dialokasikan
untuk peningkatan kapasitas dan kompetensi
setiap karyawannya.
B.Proses
1.Proses penilaian awal kondisi penderita di
Rumah Sakit Bersalin Bunda Lestari sudah
dapat berjalan dengan baik. Sesuai dengan
teori yang di ungkapkan oleh Riswan RSW,
2013 bahwa proses penilaian awal dilakukan
dengan dimulai dari penilaian pandang
kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan
fisik untuk menilai kondisi pasien dan harus
dilakukan secara sistematis sehingga dapat
teridentifikasi dengan cepat penyulit atau
komplikasi yang dihadapi.
2.Penegakkan diagnosis
Hasil penilaian awal ► dilaporkan kepada dokter
spesialis kandungan ► dilakukan penentuan diagnosis
berdasarkan pada gejala-gejala yang ada, fakta-fakta
yang terkumpul, pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan
laboratorium yang sudah dilakukan.
Hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh
Degowin,1969
3.Pelaksanaan SOP
dalam proses pelaksanaannya masih dinilai belum
optimal dilihat dari kapasitas tim medis yang belum
terlatih dan kompeten dalam melaksanakan setiap
tindakan yang sudah tertuang di dalam SOP,juga
dikarenakan keterbatasan sumber daya manusia seperti
dokter-dokter spesialis yang tidak selalu stanby berada
di tempat apabila terjadi kegawatdarutan obstetric
sehingga beberapa tindakan yang ada di dalam SOP
tersebut tidak dapat terlaksana dengan baik.
4.Penanganan
obstetric
a.
b.
c.
kasus
kegawatdaruratan
Sering terjadi kendala pada saat akan
melaksanakan tindakan operatif karena
keterbatasan tenaga spesialis.
Menurut Campbell S Lee,2000 bahwa kasus
kegawatdaruratan harus dengan cepat
ditangani agar tidak terjadinya resiko
kematian.
Pasien akan di rujuk kembali ► resiko
mengalami keterlambatan penanganan
5.Perawatan dan evaluasi kondisi pasien pasca
tindakan
Proses yang dilakukan di Rumah Sakit Bersalin
Bunda Lestari sudah cukup baik, sesuai dengan
teori Gronlund,1975 yang menyatakan bahwa
proses
evaluasi
pasca
pelayanan
kegawatdaruratan obstetric merupakan suatu
proses yang sistematis untuk menentukan
keberhasilan pencapaian kesehatan dan untuk
mengetahui sampai sejauh mana kesehatan
pasien tercapai.
Namun proses pemantauan pasien-pasien yang
telah dirujuk ke rumah sakit lain belum
berjalan optimal.
KESIMPULAN :
1.Proses penilaian awal sudah dilakukan secara
sistematis
2.Penegakkan diagnosis sudah berjalan sesuai
dengan
langkah-langkah
yang
harus
dilaksanakan
3.Pelaksanaan SOP perlu ditingkatkan baik
dalam segi kelengkapan SDM dan peningkatan
kapasitas SDM
4.Proses penanganan harus lebih di tingkatkan
dengan melaksanakan manajemen pelayanan
kegawatdaruratan obstetric yang optimal
5.Proses perawatan dan evaluasi sudah cukup
baik
SARAN :
1.Peningkatan manajemen waktu praktek
dokter spesialis kandungan dan dokter
anastesi
2.Sebaiknya dilakukan penambahan SDM
Spesialis
3.Peningkatan kapasitas/skill tenaga medis
seperti bidan atau perawat dengan mengikut
sertakan dalam pelatihan PONED maupun
PONEK
4.Peningkatan proses pemantauan pasien yang
di rujuk ke rumah sakit lain
TERIMA KASIH